Minggu, 22 Mei 2016

Pidato Bung Karno Kembali Ke Jakarta di Istana Merdeka 28-12-1949


Video ini merupakan potongan cuplikan Pidato Bung Karno kembali ke Jakarta. Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca di bawah ini:

   Saudara-Saudara lebih dahulu saya hendak menyampaikan salam kepada saudara-saudara, salam   nasional, salam merdeka. Saya minta saudara sambut dengan suara yang gegap-gempita menggeledek-mengguntur paham saudara-saudara, merdeka-merdeka (Pekikan merdeka dari rakyat).

   Saudara-Saudara ingin mendengar amanatku apa tidak? Jikalau saudara-saudara ingin mendengarkan amanatku diminta kepada saudara-saudara diam, janganlah bercakap-cakap satu sama lain.

   Saudara-Saudara sekalian. Alhamdulillah saya ucapkan di hadirat Allah SWT, ini hari aku telah menginjak lagi bumi Jakarta sesudah hampir empat tahun lamanya.

   Empat tahun bukan sebentar, empat tahun, empat kali tiga ratus enam puluh hari, saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana rasanya seperti berpisah empat puluh tahun saudara-saudara.

  Saya menyampaikan salam kepada semua, kepada para perwira dan para prajurit tentara, kepada pegawai, kepada saudara-saudara marhaen, saudara-saudara tukang becak, saudara-saudara tukang becak, saudara-saudara tukang sayur, saudara-saudara pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang terkecuali, semuanya saudara-saudara saya sampaikan salamku kepada saudara-saudara sekalian.

  Alhamdulillah sekarang di halaman ini telah berkibar Sang Dwiwarna, bendera merah-putih yang kita cintai dan saudara-saudaraku sekalian apa sebab sekarang Sang Dwiwarna bisa berkibar disini? Tak lain tak bukan ialah oleh karena rakyat Indonesia yang 70 miliun ini berjuang mati-matian.

  Benar saudara-saudara, penyerahan kedaulatan ini adalah hasil dari pada goodwill, maksud yang baik, pengertian yang baik antara Indonesia dan Belanda, antara Indonesia dengan seluruh dunia internasional, memang kami berterima kasih atas goodwill itu. Sayapun pada saat sekarang ini saudara-saudara menyampaikan terima kasihku kepada semua utusan-utusan agung daripada negara-negara asing yang pada ini hari telah hadir untuk menyaksikan kemarin penyerahan kedaulatan, penyerahan kekuasaan, dan untuk menyaksikan pada ini hari kembalinya Bung Karno di Kota Jakarta.

  Alhamdulillah saudara-saudara, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Goodwill memang sudah sebanyak-banyaknya, goodwill dari kita sendiri, goodwill dari pihak Belanda, goodwill dari dunia internasional, tetapi toh saya berkata: Adanya bendera Sang Merah Putih sekarang berkibar disini ialah terutama sekali oleh perjuangan rakyat Indonesia yang 70 miliun. Perjuangan TNI, perjuangan para pegawai, perjuangannya tukang becak, perjuangannya tukang sayur, perjuangannya nelayan, perjuangan segenap rakyat Indonesia, perjuangan Bung Karno, perjuangan Bung Hatta, perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono, perjuangan Anak Agung gde Agung, perjuangan saudara Mr. Moh. Yamin, Perjuangan Mbok Sarinah, Perjuangan Empok Zulaeha, perjuangan segenap rakyat Indonesia.

  Dan saya berkata, didalam sesuatu rakyat yang 70 miliun kalau semuanya: tua, muda, laki, perempuan, kaya, miskin, jikalau semuanya sudah berjuang tidak ada satu kekuatan yang dapat membendung.

  Aku oleh karena itu pada saat sekarang ini saya mengucapkan terima kasih kepadamu sekalian dan marilah kita ingat kepada korbanan-korbanan yang telah gugur. Kita disini bertampik-sorak, bersenang-senang, tetapi di gubuk-gubuk kita, di desa-desa kita adalah hidup banyak janda-janda yang menderita yang suaminya telah gugur dalam medan perjuangan, diseluruh kepulauan Indonesia ini, ditempat-tempat yang kecil ngutup dibawah-bawah pohon hutan, ada anak-anak kecil yang rindu kepada bapaknya yang telah gugur untuk perjuangan kemerdekaan ini. Kita punya pikiran semuanya harus ditunjukkan kepada mereka yang telah gugur itu, dan kepada keluarga mereka, dan disini atas nama negara RIS aku ucapkan banyak-banyak terima kasih dan hormat sebesar-besarnya kepada mereka itu. Tetapi bukan hanya prajurit yang gugur saja aku rasa berterima kasih, bukan hanya kepada keluarganya tetapi juga kita harus berterima kasih kepada pegawai yang melakukan perjuangan dengan mati-matian, para tani yang sekarang ada masih tidur diatas tikar yang amoh, anaknya tujuh-delapan saudara-saudara, klerk kecil-kecil yang menderita, opas-opas menderita, rakyat marhaen yang menderita, tukang becak, tukang sayur, semuanya menderita berjuang untuk kemerdekaan.

  Saudara-saudara korbanan sudah banyak yang jatuh tetapi Allah SWT  memberkati perjuangan kita itu sebagaimana telah dijanjikan Allah SWT , “Allah tidak merobah apa yang ada pada suatu umat, kecuali kalau umat itu merobah apa yang ada padanya”.

   Kita sekalian telah berjuang mati-matian untuk merubah nasib kita. Allah telah menetapi Janjinya, nasib kita dirubah daripada bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka.

   Korbanya telah banyak. Saya bertanya kepadamu: Tahukah kamu saudara-saudara sekalian, buat apa mereka berkorban itu?

    Kita sekalian berkorban ialah untuk cita-cita nasional kita. Prajurit kita berkorban, bapak marhaen berkorban, perempuan-perempuan berkorban, pegawai berkorban, segala orang Indonesia ini berkorban.

    Untuk apa? Tak lain tak bukan ialah untuk tercapainya cita-cita nasional kita. Dan saya bertanya kepadamu apa kita punya cita-cita nasional itu? Merdeka! Memang kita bangsa Indonesia, bangsa Indonesia gandrung kepada kemerdekaan.

    Saudara-saudaraku sekalian. Kita bangsa Indonesia ini yang bukan satu, bukan dua, bukan tiga ribu, tetapi 70 ribu, tentu 70 miliun, lebih dari 75 miliun jumlah banyaknya. Hidup dikepulauan beribu-ribu, jumlahnya pula terbagi-bagi atas golongan-golongan, ada Jawanya, ada Sundanya, ada Kalimantannya, ada sulawesinya, ada malukunya, ada iriannya. Kita yang bangsa 75 miliun ini adalah satu bangsa tidak dua tidak tiga.
    
    Adik-adiku, saudara-saudaraku, bangsa yang satu ini mempunyai satu cita-cita kebangsaan, kita punya cita-cita kebangsaan ialah supaya bangsa yang satu ini, bangsa Indonesia hidup sebagai satu bangsa yang merdeka.

    Tersusun-susun didalam satu negara yang juga meliputi Irian yang merdeka.

    Berkibarlah bendera Merah-Putih yang merdeka. Saudara-saudara adalah cita-cita nasional.

    Tetapi saudara-saudara belum mengetahui atau sudah mengetahui? Cita-cita kita nasional ini belum tercapai sama kali, belum tercapai 100%. Selama rakyat Irian belum merdeka berkata kita belum merdeka.

    Negara nasional yang kita tujukan adalah satu negara yang kuat, tradisi yang kuat. Kemakmuran, kesejahteraan, administrasi, ketatanegaraan, pembelaan rakyat. Semua kuat! Ini belum tercapai.

    Ini harus disusun oleh kita dan tambahan lagi sebagai tadi telah saya katakan Irian belum masuk didalam daerah ini.

   Tetapi saudara-saudara sekalian. Jikalau kita berjalan terus, jangan berhenti, berjalan terus, bekerja terus, berusaha terus dan persatu-paduan tenaga saudara-saudara, saya yakin Irian pun akan masuk didalam daerah Indonesia. Dalam pada itu marilah kita menjaga kita punya kemerdekaan ini yang telah kita capai dengan susah payah, walau belum sempurna tetapi susah payah kita mencapainya. Korbanan seratus seribu puluh ribu. Banyak yang telah jatuh. Oleh karena itu hormatilah kita punya kesusahan payah ini. Janganlah sampai kemerdekaan ini hilang. Marilah kemerdekaan ini kita isi dan kita berjuang terus. Berjuang terus saudara, bekerja terus, berusaha terus.
  
      Dengan syarat apa? Syaratnya ialah persatuan yang sekekal-kekalnya. Maha persatuan yang sekakalnya. Oleh karena itu saya minta kepada saudara sekalian. Baik dari partai apapun, baik dari golongan apapun: ia tentara, ia kaum buruh, ia kaum tani, ia Mbok Sarinah, ia bapak marhaen, semuanya rakyat Indonesia ini, bersatu-padulah!

     Sebab jikalau bangsa yang 75 miliun telah bersatu-padu, saya yakin seyakin-yakinya yakin aku yakin saudara-saudara, sebelum matahari terbit di tahun 1951 insya Allah subahanawata’allah, Irian masuk didalam negara Indonesia. Dan aku minta saudara-saudara sekalian supaya menjaga keamanan sebaik-baiknya. Kita sekarang sudah didalam keadaan damai dengan Belanda. Saya minta saudara-saudara sekalian memperlakukan segenap bangsa asing disini, juga bangsa Belanda, sebagai tamu yang terhormat. Berlaku kelak sebagai tamu dan saudara-saudara bersikaplah sebagai tuan rumah yang mengetahui kesopanan dan peradaban dunia.

    Kepada wakil negeri saya ucapkan sekali lagi, wakil negeri asing saya ucapkan sekali lagi terima kasih.

    Saya minta kepada segenap dunia goodwill, goodwill kepada bangsa Indonesia ini, bangsa Indonesia ini ingin hidup damai dengan segenap umat manusia diseluruh dunia. Ingin hidup damai bersama-sama dengan mereka dalam dunia baru yang memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada segenap umat manusia yang 2000 miliyun ini untuk hidup sejahtera, hidup damai, hidup mengabdi kepada Allah SWT.

    Dan kepada kamu, hai rakyat Indonesia saya sekali lagi minta: Bersikaplah kamu orang sekalian sebagai satu bangsa yang merdeka yang mempunyai rasa kehormatan, berlaku dengan semua bangsa asing disini dengan hormat sebagai tamu yang terhormat, tetapi bekerjalah pula, bekerja, bekerja, berjuang, berjuang, berjuang.

   Jangan berhenti-henti saudara-saudara. Kita mempunyai cita-cita belum tercapai. Negara nasional yang kita cita-citakan belum tercapai, isi negara nasional yang kita cita-citakan belum tercapai.

    Maka jikalau kita berjalan terus dengan tekad, yang demikian ini, aku yakin insya Allah, cita-cita kita tercapai sesudah tadi kita katakan apa yang sudah dijanjikan Allah SWT

   Saudara-saudara sekian pesanku. Marilah sekarang kita memekikkan “merdeka” bersama-sama terus-menerus beberapa menit, merdeka, merdeka, merdeka.

Sumber: Saudara Seperdjuangan 4 Januari 1950






                            


Tidak ada komentar:

Posting Komentar