Video ini merupakan potongan cuplikan Pidato Bung Karno kembali ke Jakarta. Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca di bawah ini:
Saudara-Saudara lebih dahulu saya hendak
menyampaikan salam kepada saudara-saudara, salam nasional, salam merdeka. Saya
minta saudara sambut dengan suara yang gegap-gempita menggeledek-mengguntur
paham saudara-saudara, merdeka-merdeka (Pekikan merdeka dari rakyat).
Saudara-Saudara ingin mendengar amanatku apa
tidak? Jikalau saudara-saudara ingin mendengarkan amanatku diminta kepada
saudara-saudara diam, janganlah bercakap-cakap satu sama lain.
Saudara-Saudara sekalian. Alhamdulillah saya
ucapkan di hadirat Allah SWT, ini hari aku telah menginjak lagi
bumi Jakarta sesudah hampir empat tahun lamanya.
Empat tahun bukan sebentar, empat tahun, empat
kali tiga ratus enam puluh hari, saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana
rasanya seperti berpisah empat puluh tahun saudara-saudara.
Saya menyampaikan salam kepada semua, kepada
para perwira dan para prajurit tentara, kepada pegawai, kepada saudara-saudara marhaen,
saudara-saudara tukang becak, saudara-saudara tukang becak, saudara-saudara tukang
sayur, saudara-saudara pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang
terkecuali, semuanya saudara-saudara saya sampaikan salamku kepada
saudara-saudara sekalian.
Alhamdulillah sekarang di halaman ini telah
berkibar Sang Dwiwarna, bendera merah-putih yang kita cintai dan
saudara-saudaraku sekalian apa sebab sekarang Sang Dwiwarna bisa berkibar
disini? Tak lain tak bukan ialah oleh karena rakyat Indonesia yang 70 miliun
ini berjuang mati-matian.
Benar saudara-saudara, penyerahan kedaulatan
ini adalah hasil dari pada goodwill, maksud yang baik, pengertian yang baik
antara Indonesia dan Belanda, antara Indonesia dengan seluruh dunia
internasional, memang kami berterima kasih atas goodwill itu. Sayapun pada saat
sekarang ini saudara-saudara menyampaikan terima kasihku kepada semua
utusan-utusan agung daripada negara-negara asing yang pada ini hari telah hadir
untuk menyaksikan kemarin penyerahan kedaulatan, penyerahan kekuasaan, dan
untuk menyaksikan pada ini hari kembalinya Bung Karno di Kota Jakarta.
Alhamdulillah saudara-saudara, sekali lagi aku
mengucapkan terima kasih. Goodwill memang sudah sebanyak-banyaknya, goodwill
dari kita sendiri, goodwill dari pihak Belanda, goodwill dari dunia
internasional, tetapi toh saya berkata: Adanya bendera Sang Merah Putih
sekarang berkibar disini ialah terutama sekali oleh perjuangan rakyat Indonesia
yang 70 miliun. Perjuangan TNI, perjuangan para pegawai, perjuangannya tukang
becak, perjuangannya tukang sayur, perjuangannya nelayan, perjuangan segenap
rakyat Indonesia, perjuangan Bung Karno, perjuangan Bung Hatta, perjuangan Sri
Sultan Hamengkubuwono, perjuangan Anak Agung gde Agung, perjuangan saudara Mr.
Moh. Yamin, Perjuangan Mbok Sarinah, Perjuangan Empok Zulaeha, perjuangan
segenap rakyat Indonesia.
Dan saya berkata, didalam sesuatu rakyat yang
70 miliun kalau semuanya: tua, muda, laki, perempuan, kaya, miskin, jikalau
semuanya sudah berjuang tidak ada satu kekuatan yang dapat membendung.
Aku oleh karena itu pada saat sekarang ini saya
mengucapkan terima kasih kepadamu sekalian dan marilah kita ingat kepada
korbanan-korbanan yang telah gugur. Kita disini bertampik-sorak,
bersenang-senang, tetapi di gubuk-gubuk kita, di desa-desa kita adalah hidup
banyak janda-janda yang menderita yang suaminya telah gugur dalam medan
perjuangan, diseluruh kepulauan Indonesia ini, ditempat-tempat yang kecil
ngutup dibawah-bawah pohon hutan, ada anak-anak kecil yang rindu kepada
bapaknya yang telah gugur untuk perjuangan kemerdekaan ini. Kita punya pikiran
semuanya harus ditunjukkan kepada mereka yang telah gugur itu, dan kepada
keluarga mereka, dan disini atas nama negara RIS aku ucapkan banyak-banyak
terima kasih dan hormat sebesar-besarnya kepada mereka itu. Tetapi bukan hanya
prajurit yang gugur saja aku rasa berterima kasih, bukan hanya kepada
keluarganya tetapi juga kita harus berterima kasih kepada pegawai yang
melakukan perjuangan dengan mati-matian, para tani yang sekarang ada masih
tidur diatas tikar yang amoh, anaknya tujuh-delapan saudara-saudara, klerk
kecil-kecil yang menderita, opas-opas menderita, rakyat marhaen yang menderita,
tukang becak, tukang sayur, semuanya menderita berjuang untuk kemerdekaan.
Saudara-saudara korbanan sudah banyak yang jatuh
tetapi Allah SWT memberkati perjuangan kita itu sebagaimana
telah dijanjikan Allah SWT , “Allah tidak merobah apa yang ada
pada suatu umat, kecuali kalau umat itu merobah apa yang ada padanya”.
Kita sekalian telah berjuang mati-matian untuk
merubah nasib kita. Allah telah menetapi Janjinya, nasib kita dirubah daripada
bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka.
Korbanya telah banyak. Saya bertanya kepadamu:
Tahukah kamu saudara-saudara sekalian, buat apa mereka berkorban itu?
Kita sekalian berkorban ialah untuk cita-cita
nasional kita. Prajurit kita berkorban, bapak marhaen berkorban,
perempuan-perempuan berkorban, pegawai berkorban, segala orang Indonesia ini
berkorban.
Untuk apa? Tak lain tak bukan ialah untuk
tercapainya cita-cita nasional kita. Dan saya bertanya kepadamu apa kita punya
cita-cita nasional itu? Merdeka! Memang kita bangsa Indonesia, bangsa Indonesia
gandrung kepada kemerdekaan.
Saudara-saudaraku sekalian. Kita bangsa
Indonesia ini yang bukan satu, bukan dua, bukan tiga ribu, tetapi 70 ribu,
tentu 70 miliun, lebih dari 75 miliun jumlah banyaknya. Hidup dikepulauan
beribu-ribu, jumlahnya pula terbagi-bagi atas golongan-golongan, ada Jawanya,
ada Sundanya, ada Kalimantannya, ada sulawesinya, ada malukunya, ada iriannya.
Kita yang bangsa 75 miliun ini adalah satu bangsa tidak dua tidak tiga.
Adik-adiku, saudara-saudaraku, bangsa yang
satu ini mempunyai satu cita-cita kebangsaan, kita punya cita-cita kebangsaan
ialah supaya bangsa yang satu ini, bangsa Indonesia hidup sebagai satu bangsa
yang merdeka.
Tersusun-susun didalam satu negara yang juga
meliputi Irian yang merdeka.
Berkibarlah bendera Merah-Putih yang merdeka.
Saudara-saudara adalah cita-cita nasional.
Tetapi saudara-saudara belum mengetahui atau
sudah mengetahui? Cita-cita kita nasional ini belum tercapai sama kali, belum
tercapai 100%. Selama rakyat Irian belum merdeka berkata kita belum merdeka.
Negara nasional yang kita tujukan adalah satu
negara yang kuat, tradisi yang kuat. Kemakmuran, kesejahteraan, administrasi,
ketatanegaraan, pembelaan rakyat. Semua kuat! Ini belum tercapai.
Ini harus disusun oleh kita dan tambahan lagi
sebagai tadi telah saya katakan Irian belum masuk didalam daerah ini.
Tetapi saudara-saudara sekalian. Jikalau kita
berjalan terus, jangan berhenti, berjalan terus, bekerja terus, berusaha terus
dan persatu-paduan tenaga saudara-saudara, saya yakin Irian pun akan masuk
didalam daerah Indonesia. Dalam pada itu marilah kita menjaga kita punya
kemerdekaan ini yang telah kita capai dengan susah payah, walau belum sempurna
tetapi susah payah kita mencapainya. Korbanan seratus seribu puluh ribu. Banyak
yang telah jatuh. Oleh karena itu hormatilah kita punya kesusahan payah ini.
Janganlah sampai kemerdekaan ini hilang. Marilah kemerdekaan ini kita isi dan
kita berjuang terus. Berjuang terus saudara, bekerja terus, berusaha terus.
Dengan
syarat apa? Syaratnya ialah persatuan yang sekekal-kekalnya. Maha persatuan
yang sekakalnya. Oleh karena itu saya minta kepada saudara sekalian. Baik dari
partai apapun, baik dari golongan apapun: ia tentara, ia kaum buruh, ia kaum
tani, ia Mbok Sarinah, ia bapak marhaen, semuanya rakyat Indonesia ini,
bersatu-padulah!
Sebab jikalau bangsa yang 75 miliun telah
bersatu-padu, saya yakin seyakin-yakinya yakin aku yakin saudara-saudara,
sebelum matahari terbit di tahun 1951 insya Allah subahanawata’allah, Irian
masuk didalam negara Indonesia. Dan aku minta saudara-saudara sekalian supaya
menjaga keamanan sebaik-baiknya. Kita sekarang sudah didalam keadaan damai dengan
Belanda. Saya minta saudara-saudara sekalian memperlakukan segenap bangsa asing
disini, juga bangsa Belanda, sebagai tamu yang terhormat. Berlaku kelak sebagai
tamu dan saudara-saudara bersikaplah sebagai tuan rumah yang mengetahui
kesopanan dan peradaban dunia.
Kepada wakil negeri saya ucapkan sekali lagi,
wakil negeri asing saya ucapkan sekali lagi terima kasih.
Saya minta kepada segenap dunia goodwill,
goodwill kepada bangsa Indonesia ini, bangsa Indonesia ini ingin hidup damai dengan
segenap umat manusia diseluruh dunia. Ingin hidup damai bersama-sama dengan
mereka dalam dunia baru yang memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada segenap
umat manusia yang 2000 miliyun ini untuk hidup sejahtera, hidup damai, hidup
mengabdi kepada Allah SWT.
Dan kepada kamu, hai rakyat Indonesia saya
sekali lagi minta: Bersikaplah kamu orang sekalian sebagai satu bangsa yang
merdeka yang mempunyai rasa kehormatan, berlaku dengan semua bangsa asing
disini dengan hormat sebagai tamu yang terhormat, tetapi bekerjalah pula,
bekerja, bekerja, berjuang, berjuang, berjuang.
Jangan berhenti-henti saudara-saudara. Kita
mempunyai cita-cita belum tercapai. Negara nasional yang kita cita-citakan
belum tercapai, isi negara nasional yang kita cita-citakan belum tercapai.
Maka jikalau kita berjalan terus dengan tekad,
yang demikian ini, aku yakin insya Allah, cita-cita kita tercapai sesudah tadi
kita katakan apa yang sudah dijanjikan Allah SWT
Saudara-saudara sekian pesanku. Marilah
sekarang kita memekikkan “merdeka” bersama-sama terus-menerus beberapa menit,
merdeka, merdeka, merdeka.
Sumber: Saudara Seperdjuangan 4 Januari 1950
Sumber: Saudara Seperdjuangan 4 Januari 1950
Tidak ada komentar:
Posting Komentar