Rabu, 11 November 2015

Ilmu Dan Amal= Geest Wil Daad

Ilmu Dan Amal= Geest Wil Daad


Pidato Bung Karno pada saat penerimaan gelar honoris causa pada bidang hukum oleh Universitas Gajah Mada pada tanggal 19 September 1951



Tuanku Presiden Universitet Gajah Mada

Tuanku Promotor, Tuan-tuanku para Mahauru, Curator

Sekalian Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya

Saudara-Saudara,

Saya mengucap terimakasih kepada Universitet Gajah Mada atas kemurahan-hatinya, memberikan kepada saya gelaran Doctor honoris causa.

Tatkala beberapa waktu yang lalu oleh fihak Gajah Mada diberitahukan kepada saya akan niatnya hendak memberikan gelaran itu kepada saya, dan ditanyakan kepada saya apakah saya mau menerimanya, maka sebenarnya buat sejurus waktu timbulah beberapa keraguan didalam hati saya, apakah pantas saya menerima predikat yang setinggi itu.

Saya bukan ahli pengetahuan. Saya bukan yang orang namakan “een geleerde”. Saya belum pernah menulis sesuatu buku yang pantas orang namakan satu prestasi wetenschappelijk. Saya belum pernah menyusun satu teori atau mengupas sesuatu teori secara analitis dalam-dalam. Bahkan pembawaanku bukan pembawaan wetenschappelijk. Pembawaanku bukan pembawaan yang “bespiegelend”. Pembawaanku adalah pembawaan yang justru kurang puas dengan ilmu an-sich. Pantaskah aku menerima derajat doctor honoris causa?

Tetapi saudara-saudara kemudian jatuhlah tekanan-kata kepada perkataan-perkataan honoris causa. Pertimbangan, apakah saya ini seorang ahli pengetahuan atau tidak, seorang wetenschapsman atau tidak, menjadilah lebih ringan dari saya. Saya lantas ingat kepada lain-lain orang, yang bukan orang-orang ahli pengetahuan, yang toh diberi dan mau menerima gelaran doctor honoris causa. Saya misalnya ingat kepada Ramsay Mac Donald dan Ratu Wilhelmina; kepada Hebert Hoover dan Ralph Bunch; kepada William Drees dan Eduard Anseele; kepada lain-lain orang doctor-doctor honoris causa, yang bukan “ahli-pengetahuan”, tetapi yang dianggap telah berbuat sesuatu yang dianggap sebagai satu jasa, terutama sekali jasa yang bermanfaat bagi hidupnya dan suburnya ilmu pengetahuan

Sudahkah saya pernah berjasa besar? Apa lagi berjasa, yang manfaat bagi hidupnya dan suburnya ilmu pengetahuan? Universitet Gajah Mada menanggap ya dan tuanku promotor tadi pun mengemukakan hal-hal yang dikatakan jasa saya. Saya menanggap bahwa saya belum pernah berjasa besar. Tetapi saya terima kemurahan-hati universitet Gajah Mada dan pernyataan-pernyataan tuanku promotor itu sebagai satu penghargaan, satu appresiasi, atas apa-apa yang telah saya perbuat buat tanah air dan bangsa, dan atas itulah saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih!

Sekali lagi, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya bukan ahli pengetahuan, dan belum pernah menulis sesuatu yang pantas dilihat dengan mata-sebelah oleh orang-orang yang ahli pengetahuan. Segenap tindak tandukku sekedar saya arahkan kepada perjoangan, dan pengabdian kepada tanah-air dan bangsa. Ya benar, saya telah banyak sekali membaca buku-buku. Tetapi sebagai tadi saya katakan: pembawaanku tidak puas dengan ilmu an-sich. Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek-hidupnya bangsa, atau praktek hidupnya dunia kemanusiaan.

Memang Alhamdulillah sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktek hidup manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal; menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuaan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Ilmu dan amal, kennis dan daad, harus “wahyu-mewahyui” satu sama lain, ‘kennis zonder daad is doellos. Daad zonder kennis is richtingloos”. Demikianlah seorang sarjana pernah berkata.

Saya dinamakan seorang pemimpin politik. Apakah kewajibanku? Kewajibanku, bahwa kewajibanya tiap-tiap pemimpin politik, bukanlah menghayutkan diri dalam perenungan-perenungan teoretis, tetapi ialah: mengaktivir kepada perbuatan. Mengaktivir golongan yang ia pimpin; kepada perbuatan; mengaktivir kelas yang ia pimpin, kepada perbuatan; mengaktivir bangsa yang ia pimpin, kepada perbuatan. Kalau tidak untuk mengaktivir kepada perbuatan, buat apa orang menjadi pemimpin? Tetapi perbuatan adalah suatu akibat. Akibat daripada kemauan. Akibat dari wil. Tiada perbuatan zonder kemauan, tiada perbuatan zonder wil, Dus: “mengaktivir kepada perbuatan” berarti: harus mengaktivir lebih dahulu kepada wil. Dan jika kebenaran ini ditransformirkan kepada soal-soal yang mengenai perikehidupan bangsa dan atau perikehidupan masyarakat, maka ia berarti: harus mengaktivir lebih dahulu kepada collective wil. Menggugah, membangkitkan, menggerakan menghebatkan collective wil. Untuk apa? Untuk melahirkan collective daad; untuk mencapai collective daad. Itulah tuan-tuan dan nyonya-nyonya, stramin daripada segala perbuatan-perbuatanku sejak muda sampai sekarang. Itulah artinya trilogie yang saya dengungkan pada tahun 1932: nationale geest- nationale wil-nationale daad. Orang lain menyusun wetenschap, mengupas, menganalise, membongkar dan menghimpun teori, saya berbahagia kalau dapat mengerjakan bahagian yang ditugaskan kepada saya, yaitu membangkitkan kepada amal, mengaktivir kepada daad! Dan sekali lagi saya katakan; untuk mengaktivir kepada daad, maka saya mencoba mengaktivir kepada wil, mengaktivir kepada collective wil, mencoba membangungkan, menghebatkan, bahkan kadang-kadang laksana “membakar” kepada collective wil!

Banyak orang-orang yang kurang mengerti artinya kemauan (wil) dalam proses-proses historis. Bahkan ada orang-orang marxis yang, karena pernah membaca bahwa marx tidak mengakui adanya kemauan merdeka atau vrije wil, tetapi sebaliknya selalu menyebut “kepastian-kepastian” atau “notwendigkeiten” dalam pertumbuhan masyarakat, lantas berkata bahwa kemauan manusia tidak ada artinya dalam proses-proses historis. Tetapi bagaimana keadaan yang sebenarnya? Keadaan sebenarnya ialah, bahwa kita harus membedakan secara tegas antara kemauan, dan kemauan merdeka. Baik falsafah idealis maupun falsafah historis-materialis (Marx) berkata, bahwa kemauan manusia adalah penting artinya dalam proses-proses historis. Marx benar membantah adanya kemauan merdeka, tetapi ia tidak pernah membantah artinya kemauan an-sich. Bahkan tidak pernah ia membantah artinya persoonlijkheid, bahkan pernah menyebutkan “die riesenrolle der menschlichen persönlichkeit”.

Ambilah misalnya teori ekonomi. Segenap teori ekonomi itu akan menjadi satu begrips-spielerei yang kosong-melompong dari orang-orang wetenschap, kalau mereka itu tidak mengakui lebih dahulu bahwa motornya semua kemajuan ekonomi ialah kemauan manusia. Sudah tentu, menurut Marx bukan kemauan merdeka, bukan vrije wil, tetapi satu kemauan yang ditentukan, ditetapkan oleh keadaan. Tetapi bagaimanapun juga, diakuilah oleh marxis dan non marxis, bahwa pada akhirnya kemauan untuk hiduplah, - de wil tot leven-, yang menjadi dasarnya semua ekonomi, dasarnya semua kemajuan, dasarnya semua usaha, bahkan dasarnya semua tindak-tanduknya makhluk-makhluk apa saja yang berjiwa. Antara insctinctnya binatang dan intelligensinya manusia, sekadar adalah perbedaan tingkat pertumbuhan, tetapi kedua-duanya, instinct dan intelligensi itu, mempunyailah dasar mutlak yang satu, oergrond yang satu, yaitu kemauan untuk hidup, de wil tot leven.

Binatang mau hidup sebagai biasanya ia hidup; ia tidak ingin berobah, tetapi ia mau hidup. Manusia mau hidup, tapi intelligensinya, yang memampukan dia membuat alat-alat untuk “melebih-enakan” ia punya hidup itu, membuat manusia itu maju setingkat demi setingkat. Verhoundignya manusia terhadap alam (natuur) berobah setingkat demi setingkat. Makin tumbuh kemampuanya membuat alat-alat teknis makin berobahlah kemauan untuk hidup itu menjadi kemauan untuk hidup lebih sempurna.

Maka kemauan untuk hidup lebih enak inilah salah satunya tandanya manusia kultur.

Tetapi, alat-alat teknis tidak saja meroba setapak demi setapak tidak saja meroba verhoundingnya manusia terhadap kepada alam atau natuur, ia merobah pula verhoundignya manusia terhadap kepada sesama manusia. Sebagai tuanku promotor tadi mengatakan: manusia adalah makhluk sosial, dan kemauan untuk hidupnya berbentuklah pula kemauan untuk hidup bersama-sama dengan manusia-manusia lain, terutama sekali dengan manusia-manusia lain yang sama alat-alat hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Maka dengan demikian tumbuhlah collectiviteiten, dengan kemauan-kemauan yang kolektif. Dengan demikian tumbuhlah kelas-kelas, dengan klassewil-klassewil yang kolektif. Dengan demikian tumbuhlah bangsa-bangsa, nationale collectiviteiten, dengan nationale wil-nationale wil yang kolektif.

Yang dinamakan orang pertengahan-pertengahan kelas tidak lain adalah pertentangan-pertantangan kemauan. Dan yang dinamakan orang pertentangan-pertentangan nasionalpun tidak lain daripada pertentangan-pertentangan kemauan. Dan kita mengetahui pertentangan-pertentangan inilah, yang masing-masing dapat dipulangkan kepada kemauan manusia, pertentangan-pertentangan inilah yang mendatangkan perobahan-perobahan hebat dalam susunan dunia dizaman histori.

Demikianlah, tuan-tuan dan nyonya nyonyalah, saya melihat kemauan manusia itu sebagai motornya semua proses-proses ekonomi dan semua proses-proses historis. Ia adalah pokok-pangkalnya, inti sebabnya semua kejadian-kejadian dalam masyarakat, ia menyerapi semua kejadian-kejadian dalam masyarakat.

Yang dinamakan “ökonomische Notwendigkeit” atau “historische Notwendigkeit”, atau notwendigkeit apapun dalam proses kehidupan manusia, bukanlah berarti tidak adanya kemauan manusia, bukanlah berarti “Willenlosigkeit”. Bukan! “Okonomische Notwendigkeit” atau “historische Notwendigkeit” bersumper dari Notwendigkeitnya tiap-tiap makhluk untuk mau hidup, Notwendigkeitnya will tot leven, dan sebagai akibat daripada itu- Notwendigkeitnya keharusan untuk mempergunakan keadaan-keadaan yang ada, agar supaya hidup.

Oleh karena itu, maka menutur anggapan saya, kewajiban tiap-tiap pemimpin Indonesia ialah mengaktivir kemauan manusia Indonesia, dan mengaktivir kemauan nasional Indonesia, sampai kepuncak yang setinggi-tingginya. Zonder kemauan manusia tidak bisa ada kemauan nasional, zonder kemauan nasional tidak bisa ada perbuatan nasional. Kemauan nasional adalah Wahyu Cakraningrat satu-satunya yang dapat menggerakan bangsa kita ini untuk menjelmakan perbuatan-perbuatan nasional. Dan kemauan nasional itu dapat diaktivir selama oergrondnya semua kejadian dialam manusia ini masih dapat diaktivir, yaitu wil tot leven. Soalnya bukanlah dapat atau tidaknya kemauan nasional diaktivir; Soalnya ialah cakap atau tidaknya pemimpin mengaktivir!

Bagaimana kemauan diaktivir? Dengan pengaruhnya fikiran dengan pengaruhnya kennis, dengan pengaruhnya “weten”. Sebab antara kemauan dan fikiran (weten) adalah perhubungan yang nyata. Benar adanya kemauan untuk hidup itu adalah sesuatu hal yang “oer”, yakni sesuatu hal yang lepas dari fikiran, tetapi fikiran adalah ikut menentukan bentuk kemauan itu dan ikut menentukan keras lemahnya kemauan itu.

Dengan pengaruh fikiran (kennis, weten) kita dus dapat memberi bentuk kepada kemauan itu, dan memberi kekerasan atau kelemahan kepada kemauan itu. Maka pada sesuatu manusia, pada sesuatu kelas, pada sesuatu bangsa, bentuk dan kekerasan kemauan itu yakni vorm dan intensiteitnya kemauan itu tidak sedikit tergantunglah daripada pengetahuannya (kennisnya) tentang perbandingan-perbandingan keadaan yang ada dalam kalanganya, dan perbandingan-perbandingan keadaan yang mengelilingi kalanganya. Karena itulah maka salah satu kewajiban pemimpin ialah memberi penerangan; memberi pengetahuan; memberi kennis; memberi weten!

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kita dimasa yang lampau hidup dalm alam perjoangan. Kita masih hidup dalam alam perjoangan. Dan kita tetap akan hidup dalam alam perjoangan itu, dalam arti yang seluas-luasnya. Untuk dapat berjoang, maka sesuatu bangsa harus mempunyai kemauan untuk berjoang, dan pemimpin berkewajiban menghidupkan kemauan untuk berjoang. Pemimpin harus mengaktivir kemauan massa untuk berjoang. Maka tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah, sedari alam-mudaku, hanya satu ambisi itulah menggelora didalam kalbuku: mengaktivir kemauanya massa untuk berjoang. Hanya satu feu sacre menyala tak padam-padam didalam jiwaku: mengaktivir nationale wil untuk berjoang. Mengaktivir kemauan nasional untuk berjoang, ya ibarat hendak menggempakan bimmab nasional untuk berjoang, agar supaya lahirlah perbuatan-perbuatan nasional, yang memang hanya perbuatan-perbuatanlah kunci pembuka pintu-gerbang kearah kebahagiaan.

Maka pertanyaan sekarang ialah: Dapatkah kemauan untuk berjoang diaktivir? Dapatkah strijdlust, strijdwil, diaktivir? Dapatkah digerrakan dan dikerahkan kemauan-berjoang pada sesuatu bangsa, hingga ia mau bergerak, mau membanting-tulang, mau memeras keringat, mau berulet, mau berkorban, mau menderita, mau masuk lautan api, untuk mencapai sesuatu hal? Sejarah dunia membuktikan bahwa yang demikian itu dapat. Sejarah dunia tidak kosong dari adanya gerakan-gerakan nasional yang hebat, yang ya benar dilahirkan oleh faktor-faktor obyektif, tetapi yang massa-wilnya nyata diaktivir oleh pimpinan yang cakap.

Dari apakah tergantung besar-kecilnya kemauan massa untuk berjoang?

Besar kecilnya kemauan massa untuk berjoang ditentukan oleh tiga hal. Pertama oleh menarik tidaknya tujuan atau cita-cita yang memanggil melambai massa itu untuk berjoang. Kedua oleh rasa mampu, rasa bisa, rasa sanggup dikalangan massa itu. Ketiga oleh tenaga yang sebenarnya ada dikalangan masa itu. Dus pertama oleh apa yang dinamakan prijis; kedua oleh krachtsgevoel; ketiga oleh werkelijke kracht. Maka pemimpin yang cakap menggambarkan indahnya prijis perjoangan kepada massa, pemimpin yang cakap membesar-besarkan rasa mampu dikalangan massa untuk mencapai prijis-perjoangan itu pemimpin yang cakap pula dengan riil menyusun tenaga massa yang sebenarnya untuk mencapai prijis perjoangan itu, pemimpin yang demikian itulah dapat mengaktivir kemauanya massa untuk berjoang. Tidakkah benar kemauan berjoang makin besar., kalau prijis makin menarik? Tidakkah benar kemauan berjoang makin keras, kalau rasa mampu-mampu mencapai prijis itu makin kuat? Tidakkah benar kemauan berjoang makin menyala, kalau tenaga sebenarnya, yang perlu untuk merebut prijis itu, makin nyata?

Maka tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah bagaimana menyelanggarakan tridharma ini? Saudara-saudara, selama saya menjadi pemimpin, saya selalu mencoba mempergunakan kecakapanku yang sedikit itu untuk memenuhi tridharma ini


  1. Saya selalu membanting tulang untuk mengambarkan prijis perjoangan kita kepada massa, dengan penerangan-penerangan biasa, dengan kursus-kursus, dengan tulisan-tulisan, dengan pidato-pidato dirapat-rapat besar, demikian seringnya, dan demikian “melambaikanya” prijis itu, sehingga kadang-kadang dikatakan orang bahwa saya ini mengucapkan janji-janji!
  2. Saya selalu mencoba membesar-besarkan rasa mampunya rakyat dengan menggungah dan memperkuat kepercayaanya kepada diri sendiri, dengan mengupas sumber-sumber kekuatan kita dan mengupas sumber-sumber kelemahan musuh, dan terutama sekali dengan membawa rakyat itu dalam prakteknya perjoangan, ya, sekali lagi, dalam prakteknya perjoangan, oleh karena prakteknya perjoangan itulah, dengan iramanya kemenangan-kemenangan kecil dan kemenangan-kemenangan besar, adalah sumber rasa mampu yang lebih berharga daripada seribu teori atau seribu anjuran
  3. Saya selalu mencoba membesar-besarkan tenaga rakyat yang sebenarnya, dengan ikhtiar memperkuat dan menyempurnakan organisasi-organisasi rakyat itu, dengan membantu terletaknya perpecahan-perpecahan, dengan berusaha tiada henti-hentinya menyusun persatuan, persatuan, persatua, dan sekali lagi persatuan. Dan semua itu, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonyalah telah mengarti, untuk mengaktivir kemauan berjoang, untuk mengaktivir kemauan nasional, dan ini lagi untuk melahirkan perbuatan-perbuatan nasional, yang crescendo,membawa kita kepada kemerdakaan, kepada negara yang berdaulat, kepada negara yang berdasarkan Pancasila. Dan jika kalau sekarang Universitet Gajah Mada memanggil saya untuk menerima kehormatanya doctor honoris causa, maka saya berkata: saya bukan ahli ilmu pengetahuan, saya pun tidak ingin disebut orang ahli ilmu pengetahuan, saya juga tidak merasa berjasa, oleh karena apa yang telah kita capai ini bukan jasa saya sendiri tatapi adalah jasa kita bersama-sama, saya sekedar orang yang tidak mau berhenti kepada ilmu pengetahuan, tetapi selalu mempergunakan ilmu pengetahuan yang sedikit ada padaku itu untuk membangkitkan kepada wil dan kepada daad, dan yang sendiri. Alhamdullilah, tidak kurang-kurang pula wil dan tidak kurang-kurang pula daad. Jikalau ini yang tuan-tuan hargakan, jika kalau ini yang tuan-tuan apprecieer, maka penghargaan atau appresiasi tuan-tuan atas jerih-payah yang telah saya persembahkan dengan ikhlas kepada perjoangan tanah air dan bangsa itu, saya terima dengan rasa terharu dan rasa terima kasih. Tidak lain! Sungguh tidak lain! Pancasila yang tuanku promotor sebutkan sebagai jasa saya itu sebagai ciptaan saya itu, bukanlah jasa saya, oleh karena saya, dalam hal Pancasila itu, sekedar menjadi “perumus” daripada perasaan-perasaan yang telah lama terkandung bisu dalam kalbu rakyat Indonesia, sekedar menjadi “pengutara” daripada keinginan-keinginan dan isi jiwa bangsa Indonesia turun-temurun.

Ya, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, benar Pancasila itu resmi menjadi dasarnya falsafah negara Republik Indonesia, sebagai tercantum dalam mukadimah Undang-undang dasarnya, tetapi saya menanggap Pancasila itu telah lama tergurat pada jiwa bangsa Indonesia. Saya menanggap Pancasila itu corak karakternya bangsa Indoensia. Sebagaimana tiap-tiap individu mempunyai watek sendiri dan pembawaan-pembawaan sendiri, maka tiap-tiap bangsa pun mempunyai watek sendiri dan pembawaan-pembawaan sendiri. Tiap-tiap bangsa mempunyai “themasentral” sendiri yang menentukan segala sesuatu yang mengisi hidupnya, mempunyai “toon” sendiri yang menentukan segenap lagu fikiranya dan segenap lagu tingkahnya, mempunyai kepribadian sendiri yang memberi cap atau corak kepada segala angan-angannya dan segala kelakuan-kelakuannya. Ada bangsa yang kepribadianya ialah haus kekuasaan dan haus menguasai orang lain, yaitu bangsa yang kepribadiannya imperialistis; ada bangsa yang toon lagunya ialah selalu toon kesenian, bangsa yang artistik. Bangsa Indonesia ialah satu bangsa yang toon lagunya menurut pendapatku ialah Pancasila. Tidakkah benar bangsa kita pada hakekatnya religieus? Tidakkah benar bangsa kita pada hakekatnya berjiwa kebangsaan? Tidakkah benar bangsa kita selalu halus budi pekertinya terhadap sesama manusia? Tidakkah benar kedaulatan rakyat atau demokrasi bukan barang baru bagi kita? Tidakkah benar keadilan sosial, didesa-desa orang sebutkan pemerintahnya ratu adil, dianggap oleh bangsa kita sebagai puncaknya kebijaksanaan? Telaahlah siapa yang mau mentelaah: bangsa Indonesia bertema sentral kepada tema yang lima itu, berwatek watek yang lima itu, berkepribadian-kepribadian yang lima itu, berroman-muka roman-muka yang lima itu! Maka saya bertanya adakah saya berjasa kalau saya melihat roman-muka ibuku sendiri, dan lantas mengatakan bagaimana roman-muka ibuku itu?

Tetapi, tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah, juga disini saya hendak mengemukakan elemen perjoangan. Bangsa kita berkeperibadian Pancasila tetapi itu belum berarti bahwa Pancasila telah menjelma wadag disegala bagian-bagian dan sudut-sudut masyarakat kita, telah gematerialiseerd disegala lapangan-lapangan hidup masyarakat kita! Ada orang yang berkata: Buat apa Pancasila, sedangkan masih banyak kemiskinan dikalangan rakyat? Buat apa Pancasila, sedangkan perikemanusiaan masih sering dilanggar orang? Hai, tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah, adakah Christendom yang bersalah kalau masih banyak orang yang tidak christelyk; adakah islam yang bersalah kalau belum semua ajaranya terselenggara? Adakah satu defect kepada Pancasila, kalau masih ada orang-orang Indonesia yang tiada bertuhan, kalau masih ada perpecahan dan provincialisme, kalau masih ada orang-orang yang kejam pada sesama manusia dan nasional-chavinis, kalau masih belum berjalan sempurna kedaulatan rakyat, kalau masih ada kemiskinan dan kemelaratan?

Tidak, salahnya ialah bahwa kita, juga dalam hal Pancasila ini, melupakan elemen perjoangan. Juga dalam hal Pancasila ini orang harus berfikir dalam istilah geest wil daad! Bangsa Indonesia harus berjoang terus, berdialog dalam arti yang luas, berjoang terutama dalam arti membangun, membangun materil dan membangun moril, agar supaya toon-hidupnya yang bernama Pancasila itu benar-benar menjelma wadag diatas segala lapangan hidunya. Sebab, sebagaimana tiap-tiap individu dilingkungi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi dan menentukan hidup jasmani individu itu, maka bangsa pun dilingkungi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi dan menentukan hidupnya bangsa itu. Perjoangan individu ialah perjoangan mempergunakan atau mengalahkan keadaan agar supaya zijnnya (luar dalam) tumbuh dan berkembang, maka perjoangan bangsa pun harus perjoangan mempergunakan atau mengalahkan keadaan agar supaya zijnya (luar dalam) tumbuh dan berkembang. Ambillah saudara-saudara sebuah benih sawo. Tanamlah benih sawo itu. Dimanapun ia ditanam, benih sawo akan menjadi pohon sawo, tidak akan benih sawo itu menjadi pohon mangga. Kepribadiannya tetap. Wataknya tetap. Toon hidupnya tetap. Tetapi ada perbedaan besar, apakah sawo itu ditanam di tanah cengkar ataukah di tanah yang subur. Ditanah cengkar ia menjadi pohon sawo yang kurus. Di tanah subur ia menjadi pohon sawo yang subur. Keadaan sekali lagi keadaan dan cara mempergunakan keadaan atau menundukkan keadaan itu, membuat dia menjadilah pohon sawo yang kurus-kering atau pohon sawo yang daunya rindang dan buahnya banyak. Bangsa Indonesia pun harus berjoang, terus berjoang, terus berjoang oleh karena hidup adalah berjoang, mempergunakan keadaan dan menundukkan keadaan, agar supaya zijnya subur dan berkembang. Berjoang terus, agar supaya kepribadianya menjelma wadag dimana-mana. Toon hidupnya gematerialiseerd disegala lapangan. Pancasila menjadi kenyataan yang dapat diraba, menjadi tastbare werkelijkheid, diseluruh masyarakat tanah air kita.

Berjoang, bekerja, berjoang buat tanah air dan bangsa, geest wil daad buat tanah air dan bangsa, itulah tetap menjadi seruan saya, dari zaman saya masih muda, sampa kezaman sekarang. Geest wil daad buat tanah air dan bangsa itupun menjadi seruanku pada saat sekarang ini kepadamu, hai mahasiswa- mahasiswa, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang sedang meminum air pengetahuan dari sumbernya Alma mater Gajah Mada! Camkanlah inti sari pidatoku sekarang ini, bahwa pengetahuan, bahwa ilmu, bahwa kennis, bahwa wetenschap, bahwa terori adalah tiada guna, tiada wujud, doelloos, jika tidak dipergunakan untuk mengabdi kepada prakteknya hidup. Buatlah ilmu berdwitunggal dengan amal! Malahan angkatan derajat kemana siswaanmu itu kepada derajatnya mahasiswa patriot, yang sekarang mencari ilmu, untuk kemudian beramal terus menerus dihadirat wajah ibu pratiwi!

Tahukah mahasiswa apa sebab aku sekarang ini bangga? Bukan terutama oleh karena diberi kehormatan doctor honoris causa. Tetapi aku bangga karena alma matermulah yang memanggil aku, Alma matermu! Universitet Gajah Mada yang dilahirkan diatas persadanya amal bagi ibu pratiwi, dilahirkan dalam kancahnya perjoangan ibu pratiwi. Didalam kancahnya tempat menggumpalnya kemauan-kemauan nasional menjadi amal-amal nasional, didalam kancah tempat menggumpulnya nationalewil menjadi nationale daad, didalam kancah tempat menggumpalnya oknum-oknum konstruktif daripada revolusi ktia yang glorieus ini, didalam kancahnya perjoangan, pengorbanan, pengabdian, didalam kancah yang demikian itulah Gajah Madamu ini dilahirkan, didalam kancah yang demikian itulah Gajah Madamu ini menjelma dan bertumbuh, dan aku sungguh terharu bahwa Universitet yang demikian itulah yang menyatakan apresiasinya atas sumbanganku kepada ibu pratiwi. Dan engkau, engkau adalah mahasiswa- mahasiswa pada Universitet Putera amal dan putera perjoangan itu, engkau adalah asuhan-asuhannya, engkau adalah laksana anak-anak rajawali, adelaarsjong-adelaarsjong, maka tetap setialah kepada jiwa dan cita-cita indukmu itu, sekarang dan kelak, jikalau engkau telah meninggalkan ruangan-ruangan kuliahnya dan telah masuk kedalam prakteknya masyarakat dan prakteknya hidup. Hidupkanlah terus garis pahlawan geest wil daad, hidupkanlah terus garis pejoang geest wil daad! Gajah Mada adalah mata airmu, Gajah Mada adalah sumber airmu, tinggalkanlah kelak Gajah mada ini bukan untuk mati tergenang dalam rawanya ketiadaamalan atau rawanya kemuktian diri-sendiri, tetapi mengalirlah kelaut, tujulah kelaut, capailah laut, Lautnya pengabdian kepada negara dan tanah air, yang berirama, bergelombang, bergelora!

Ambillah, hai mahasiswa- mahasiswa Gajah Mada, ucapan seorang revolusioner Perancis menjadi semboyan hidupmu di masa depan:

“Door de ze op te zoeken, blijft de rivier trouw aan haar bron”

“Dengan menuju kelaut, maka sungai setia kepada sumbernya

Sekianlah!

Merdeka!

Sekali lagi hidupkan terus garis geest wil-daad!