Ilmu Dan Amal= Geest Wil Daad
Pidato Bung Karno
pada saat penerimaan gelar honoris causa pada bidang hukum oleh Universitas
Gajah Mada pada tanggal 19 September 1951
Tuanku Presiden Universitet Gajah Mada
Tuanku Promotor, Tuan-tuanku para Mahauru, Curator
Sekalian Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya
Saudara-Saudara,
Saya mengucap terimakasih kepada Universitet Gajah Mada atas
kemurahan-hatinya, memberikan kepada saya gelaran Doctor honoris causa.
Tatkala beberapa waktu yang lalu oleh fihak Gajah Mada diberitahukan
kepada saya akan niatnya hendak memberikan gelaran itu kepada saya, dan
ditanyakan kepada saya apakah saya mau menerimanya, maka sebenarnya buat
sejurus waktu timbulah beberapa keraguan didalam hati saya, apakah pantas saya
menerima predikat yang setinggi itu.
Saya bukan ahli pengetahuan. Saya bukan yang orang namakan “een
geleerde”. Saya belum pernah menulis sesuatu buku yang pantas orang namakan
satu prestasi wetenschappelijk. Saya belum pernah menyusun satu teori atau
mengupas sesuatu teori secara analitis dalam-dalam. Bahkan pembawaanku bukan
pembawaan wetenschappelijk. Pembawaanku bukan pembawaan yang “bespiegelend”.
Pembawaanku adalah pembawaan yang justru kurang puas dengan ilmu an-sich. Pantaskah aku menerima derajat
doctor honoris causa?
Tetapi saudara-saudara kemudian jatuhlah tekanan-kata kepada
perkataan-perkataan honoris causa.
Pertimbangan, apakah saya ini seorang ahli pengetahuan atau tidak, seorang
wetenschapsman atau tidak, menjadilah lebih ringan dari saya. Saya lantas ingat
kepada lain-lain orang, yang bukan orang-orang ahli pengetahuan, yang toh
diberi dan mau menerima gelaran doctor honoris causa. Saya misalnya ingat
kepada Ramsay Mac Donald dan Ratu Wilhelmina; kepada Hebert Hoover dan Ralph
Bunch; kepada William Drees dan Eduard Anseele; kepada lain-lain orang
doctor-doctor honoris causa, yang bukan “ahli-pengetahuan”, tetapi yang
dianggap telah berbuat sesuatu yang dianggap sebagai satu jasa, terutama sekali jasa yang bermanfaat bagi hidupnya dan suburnya ilmu pengetahuan…
Sudahkah saya pernah berjasa besar? Apa lagi berjasa, yang manfaat bagi
hidupnya dan suburnya ilmu pengetahuan? Universitet Gajah Mada menanggap ya dan
tuanku promotor tadi pun mengemukakan hal-hal yang dikatakan jasa saya. Saya
menanggap bahwa saya belum pernah berjasa besar. Tetapi saya terima
kemurahan-hati universitet Gajah Mada dan pernyataan-pernyataan tuanku promotor
itu sebagai satu penghargaan, satu appresiasi, atas apa-apa yang telah saya
perbuat buat tanah air dan bangsa, dan atas itulah saya mengucapkan
banyak-banyak terima kasih!
Sekali lagi, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya bukan ahli pengetahuan,
dan belum pernah menulis sesuatu yang pantas dilihat dengan mata-sebelah oleh
orang-orang yang ahli pengetahuan. Segenap tindak tandukku sekedar saya arahkan
kepada perjoangan, dan pengabdian kepada tanah-air dan bangsa. Ya benar, saya
telah banyak sekali membaca buku-buku. Tetapi sebagai tadi saya katakan: pembawaanku tidak puas dengan ilmu an-sich. Bagi
saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk
mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek-hidupnya bangsa, atau
praktek hidupnya dunia kemanusiaan.
Memang Alhamdulillah sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktek hidup
manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal; menghubungkan
pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuaan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin
oleh pengetahuan. Ilmu dan amal, kennis dan daad, harus “wahyu-mewahyui”
satu sama lain, ‘kennis zonder daad is doellos. Daad zonder kennis is
richtingloos”. Demikianlah seorang sarjana pernah berkata.
Saya dinamakan seorang pemimpin politik. Apakah kewajibanku? Kewajibanku,
bahwa kewajibanya tiap-tiap pemimpin politik, bukanlah menghayutkan diri dalam
perenungan-perenungan teoretis, tetapi ialah: mengaktivir kepada perbuatan. Mengaktivir golongan yang ia
pimpin; kepada perbuatan; mengaktivir
kelas yang ia pimpin, kepada perbuatan; mengaktivir bangsa yang ia pimpin,
kepada perbuatan. Kalau tidak untuk mengaktivir kepada perbuatan, buat apa
orang menjadi pemimpin? Tetapi perbuatan adalah suatu akibat. Akibat daripada
kemauan. Akibat dari wil. Tiada perbuatan zonder kemauan, tiada perbuatan
zonder wil, Dus: “mengaktivir kepada perbuatan” berarti: harus mengaktivir
lebih dahulu kepada wil. Dan jika kebenaran ini ditransformirkan kepada
soal-soal yang mengenai perikehidupan bangsa dan atau perikehidupan masyarakat,
maka ia berarti: harus mengaktivir lebih dahulu kepada collective wil.
Menggugah, membangkitkan, menggerakan menghebatkan collective wil. Untuk apa?
Untuk melahirkan collective daad; untuk mencapai collective daad. Itulah
tuan-tuan dan nyonya-nyonya, stramin daripada segala perbuatan-perbuatanku
sejak muda sampai sekarang. Itulah artinya trilogie yang saya dengungkan pada
tahun 1932: nationale geest- nationale wil-nationale daad. Orang lain menyusun
wetenschap, mengupas, menganalise, membongkar dan menghimpun teori, saya
berbahagia kalau dapat mengerjakan bahagian yang ditugaskan kepada saya, yaitu
membangkitkan kepada amal, mengaktivir kepada daad! Dan sekali lagi saya
katakan; untuk mengaktivir kepada daad, maka saya mencoba mengaktivir kepada
wil, mengaktivir kepada collective wil, mencoba membangungkan, menghebatkan,
bahkan kadang-kadang laksana “membakar” kepada collective wil!
Banyak orang-orang yang kurang mengerti artinya kemauan (wil) dalam
proses-proses historis. Bahkan ada orang-orang marxis yang, karena pernah
membaca bahwa marx tidak mengakui adanya kemauan merdeka atau vrije wil, tetapi
sebaliknya selalu menyebut “kepastian-kepastian” atau “notwendigkeiten” dalam
pertumbuhan masyarakat, lantas berkata bahwa kemauan manusia tidak ada artinya
dalam proses-proses historis. Tetapi bagaimana keadaan yang sebenarnya? Keadaan
sebenarnya ialah, bahwa kita harus membedakan secara tegas antara kemauan, dan
kemauan merdeka. Baik falsafah idealis maupun falsafah historis-materialis
(Marx) berkata, bahwa kemauan manusia adalah penting artinya dalam
proses-proses historis. Marx benar membantah adanya kemauan merdeka, tetapi ia
tidak pernah membantah artinya kemauan an-sich. Bahkan tidak pernah ia
membantah artinya persoonlijkheid, bahkan pernah menyebutkan “die riesenrolle
der menschlichen persönlichkeit”.
Ambilah misalnya teori ekonomi. Segenap teori ekonomi itu akan menjadi
satu begrips-spielerei yang kosong-melompong dari orang-orang wetenschap, kalau
mereka itu tidak mengakui lebih dahulu bahwa motornya semua kemajuan ekonomi
ialah kemauan manusia. Sudah tentu, menurut Marx bukan kemauan merdeka, bukan
vrije wil, tetapi satu kemauan yang ditentukan,
ditetapkan oleh keadaan. Tetapi bagaimanapun juga, diakuilah oleh marxis
dan non marxis, bahwa pada akhirnya kemauan untuk hiduplah, - de wil tot leven-, yang menjadi dasarnya
semua ekonomi, dasarnya semua kemajuan, dasarnya semua usaha, bahkan dasarnya
semua tindak-tanduknya makhluk-makhluk apa saja yang berjiwa. Antara
insctinctnya binatang dan intelligensinya manusia, sekadar adalah perbedaan
tingkat pertumbuhan, tetapi kedua-duanya, instinct dan intelligensi itu,
mempunyailah dasar mutlak yang satu, oergrond yang satu, yaitu kemauan untuk
hidup, de wil tot leven.
Binatang mau hidup sebagai biasanya ia hidup; ia tidak ingin berobah,
tetapi ia mau hidup. Manusia mau hidup, tapi intelligensinya, yang memampukan
dia membuat alat-alat untuk “melebih-enakan” ia punya hidup itu, membuat
manusia itu maju setingkat demi setingkat. Verhoundignya manusia terhadap alam
(natuur) berobah setingkat demi setingkat. Makin tumbuh kemampuanya membuat
alat-alat teknis makin berobahlah kemauan untuk hidup itu menjadi kemauan untuk
hidup lebih sempurna.
Maka kemauan untuk hidup lebih enak inilah salah satunya tandanya manusia
kultur.
Tetapi, alat-alat teknis tidak saja meroba setapak demi setapak tidak
saja meroba verhoundingnya manusia terhadap kepada alam atau natuur, ia merobah
pula verhoundignya manusia terhadap kepada sesama
manusia. Sebagai tuanku promotor tadi mengatakan: manusia adalah makhluk
sosial, dan kemauan untuk hidupnya berbentuklah pula kemauan untuk hidup bersama-sama dengan manusia-manusia
lain, terutama sekali dengan manusia-manusia lain yang sama alat-alat hidupnya
dalam arti yang seluas-luasnya. Maka dengan demikian tumbuhlah
collectiviteiten, dengan kemauan-kemauan yang kolektif. Dengan demikian
tumbuhlah kelas-kelas, dengan klassewil-klassewil yang kolektif. Dengan
demikian tumbuhlah bangsa-bangsa, nationale collectiviteiten, dengan nationale
wil-nationale wil yang kolektif.
Yang dinamakan orang pertengahan-pertengahan kelas tidak lain adalah
pertentangan-pertantangan kemauan. Dan yang dinamakan orang
pertentangan-pertentangan nasionalpun tidak lain daripada
pertentangan-pertentangan kemauan. Dan kita mengetahui pertentangan-pertentangan
inilah, yang masing-masing dapat dipulangkan kepada kemauan manusia, pertentangan-pertentangan inilah yang mendatangkan
perobahan-perobahan hebat dalam susunan dunia dizaman histori.
Demikianlah, tuan-tuan dan nyonya nyonyalah, saya melihat kemauan manusia
itu sebagai motornya semua proses-proses ekonomi dan semua proses-proses
historis. Ia adalah pokok-pangkalnya, inti sebabnya semua kejadian-kejadian
dalam masyarakat, ia menyerapi semua kejadian-kejadian dalam masyarakat.
Yang dinamakan “ökonomische Notwendigkeit” atau “historische
Notwendigkeit”, atau notwendigkeit apapun dalam proses kehidupan manusia,
bukanlah berarti tidak adanya kemauan manusia, bukanlah berarti
“Willenlosigkeit”. Bukan! “Okonomische Notwendigkeit” atau “historische
Notwendigkeit” bersumper dari Notwendigkeitnya tiap-tiap makhluk untuk mau
hidup, Notwendigkeitnya will tot leven, dan sebagai akibat daripada itu-
Notwendigkeitnya keharusan untuk mempergunakan
keadaan-keadaan yang ada, agar supaya hidup.
Oleh karena itu, maka menutur anggapan saya, kewajiban tiap-tiap pemimpin
Indonesia ialah mengaktivir kemauan manusia Indonesia, dan mengaktivir kemauan
nasional Indonesia, sampai kepuncak yang setinggi-tingginya. Zonder kemauan
manusia tidak bisa ada kemauan nasional, zonder kemauan nasional tidak bisa ada
perbuatan nasional. Kemauan nasional adalah Wahyu Cakraningrat satu-satunya
yang dapat menggerakan bangsa kita ini untuk menjelmakan perbuatan-perbuatan
nasional. Dan kemauan nasional itu dapat
diaktivir selama oergrondnya semua kejadian dialam manusia ini masih dapat
diaktivir, yaitu wil tot leven. Soalnya bukanlah dapat atau tidaknya kemauan
nasional diaktivir; Soalnya ialah cakap atau tidaknya pemimpin mengaktivir!
Bagaimana kemauan diaktivir? Dengan pengaruhnya fikiran dengan
pengaruhnya kennis, dengan pengaruhnya “weten”. Sebab antara kemauan dan
fikiran (weten) adalah perhubungan yang nyata. Benar adanya kemauan untuk hidup
itu adalah sesuatu hal yang “oer”, yakni sesuatu hal yang lepas dari fikiran, tetapi fikiran adalah ikut menentukan bentuk
kemauan itu dan ikut menentukan keras lemahnya kemauan itu.
Dengan pengaruh fikiran (kennis, weten) kita dus dapat memberi bentuk kepada kemauan itu, dan memberi kekerasan atau kelemahan kepada kemauan itu. Maka pada sesuatu manusia, pada
sesuatu kelas, pada sesuatu bangsa, bentuk dan kekerasan kemauan itu yakni vorm
dan intensiteitnya kemauan itu tidak sedikit tergantunglah daripada pengetahuannya (kennisnya) tentang perbandingan-perbandingan keadaan yang ada dalam
kalanganya, dan perbandingan-perbandingan keadaan yang mengelilingi kalanganya.
Karena itulah maka salah satu kewajiban pemimpin ialah memberi penerangan;
memberi pengetahuan; memberi kennis; memberi weten!
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kita dimasa yang lampau hidup dalm alam
perjoangan. Kita masih hidup dalam alam perjoangan. Dan kita tetap akan hidup
dalam alam perjoangan itu, dalam arti yang seluas-luasnya. Untuk dapat
berjoang, maka sesuatu bangsa harus mempunyai kemauan untuk berjoang, dan
pemimpin berkewajiban menghidupkan kemauan untuk berjoang. Pemimpin harus
mengaktivir kemauan massa untuk berjoang. Maka tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah,
sedari alam-mudaku, hanya satu ambisi itulah menggelora didalam kalbuku:
mengaktivir kemauanya massa untuk berjoang. Hanya satu feu sacre menyala tak padam-padam didalam jiwaku: mengaktivir
nationale wil untuk berjoang. Mengaktivir kemauan nasional untuk berjoang, ya
ibarat hendak menggempakan bimmab nasional untuk berjoang, agar supaya lahirlah
perbuatan-perbuatan nasional, yang memang hanya perbuatan-perbuatanlah kunci
pembuka pintu-gerbang kearah kebahagiaan.
Maka pertanyaan sekarang ialah: Dapatkah kemauan untuk berjoang
diaktivir? Dapatkah strijdlust, strijdwil, diaktivir? Dapatkah digerrakan dan
dikerahkan kemauan-berjoang pada sesuatu bangsa, hingga ia mau bergerak, mau
membanting-tulang, mau memeras keringat, mau berulet, mau berkorban, mau
menderita, mau masuk lautan api, untuk mencapai sesuatu hal? Sejarah dunia
membuktikan bahwa yang demikian itu dapat. Sejarah dunia tidak kosong dari
adanya gerakan-gerakan nasional yang hebat, yang ya benar dilahirkan oleh
faktor-faktor obyektif, tetapi yang massa-wilnya nyata diaktivir oleh pimpinan
yang cakap.
Dari apakah tergantung besar-kecilnya kemauan massa untuk berjoang?
Besar kecilnya kemauan massa untuk berjoang ditentukan oleh tiga hal. Pertama oleh menarik tidaknya tujuan atau cita-cita yang memanggil
melambai massa itu untuk berjoang. Kedua
oleh rasa mampu, rasa bisa, rasa sanggup dikalangan massa itu. Ketiga oleh tenaga yang sebenarnya ada
dikalangan masa itu. Dus pertama oleh apa yang dinamakan prijis; kedua oleh krachtsgevoel; ketiga oleh werkelijke kracht.
Maka pemimpin yang cakap menggambarkan indahnya prijis perjoangan kepada massa,
pemimpin yang cakap membesar-besarkan rasa mampu dikalangan massa untuk
mencapai prijis-perjoangan itu pemimpin yang cakap pula dengan riil menyusun
tenaga massa yang sebenarnya untuk mencapai prijis perjoangan itu, pemimpin
yang demikian itulah dapat mengaktivir kemauanya massa untuk berjoang. Tidakkah
benar kemauan berjoang makin besar., kalau prijis makin menarik? Tidakkah benar
kemauan berjoang makin keras, kalau rasa mampu-mampu mencapai prijis itu makin
kuat? Tidakkah benar kemauan berjoang makin menyala, kalau tenaga sebenarnya,
yang perlu untuk merebut prijis itu, makin nyata?
Maka tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah bagaimana menyelanggarakan tridharma
ini? Saudara-saudara, selama saya menjadi pemimpin, saya selalu mencoba
mempergunakan kecakapanku yang sedikit itu untuk memenuhi tridharma ini
- Saya selalu membanting tulang untuk
mengambarkan prijis perjoangan kita kepada massa, dengan
penerangan-penerangan biasa, dengan kursus-kursus, dengan tulisan-tulisan,
dengan pidato-pidato dirapat-rapat besar, demikian seringnya, dan demikian
“melambaikanya” prijis itu, sehingga kadang-kadang dikatakan orang bahwa
saya ini mengucapkan janji-janji!
- Saya selalu mencoba membesar-besarkan
rasa mampunya rakyat dengan menggungah dan memperkuat kepercayaanya kepada
diri sendiri, dengan mengupas sumber-sumber kekuatan kita dan mengupas
sumber-sumber kelemahan musuh, dan terutama sekali dengan membawa rakyat
itu dalam prakteknya perjoangan,
ya, sekali lagi, dalam prakteknya perjoangan,
oleh karena prakteknya perjoangan itulah, dengan iramanya kemenangan-kemenangan
kecil dan kemenangan-kemenangan besar, adalah sumber rasa mampu yang lebih
berharga daripada seribu teori atau seribu anjuran
- Saya selalu mencoba membesar-besarkan
tenaga rakyat yang sebenarnya, dengan ikhtiar memperkuat dan
menyempurnakan organisasi-organisasi rakyat itu, dengan membantu
terletaknya perpecahan-perpecahan, dengan berusaha tiada henti-hentinya
menyusun persatuan, persatuan, persatua, dan sekali lagi persatuan. Dan
semua itu, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonyalah telah mengarti, untuk
mengaktivir kemauan berjoang, untuk mengaktivir kemauan nasional, dan ini
lagi untuk melahirkan perbuatan-perbuatan nasional, yang crescendo,membawa
kita kepada kemerdakaan, kepada negara yang berdaulat, kepada negara yang
berdasarkan Pancasila. Dan jika kalau sekarang Universitet Gajah Mada
memanggil saya untuk menerima kehormatanya doctor honoris causa, maka saya
berkata: saya bukan ahli ilmu pengetahuan, saya pun tidak ingin disebut
orang ahli ilmu pengetahuan, saya juga tidak merasa berjasa, oleh karena
apa yang telah kita capai ini bukan jasa saya sendiri tatapi adalah jasa
kita bersama-sama, saya sekedar orang yang tidak mau berhenti kepada ilmu pengetahuan, tetapi selalu
mempergunakan ilmu pengetahuan yang sedikit ada padaku itu untuk
membangkitkan kepada wil dan kepada daad, dan yang sendiri. Alhamdullilah,
tidak kurang-kurang pula wil dan tidak kurang-kurang pula daad. Jikalau
ini yang tuan-tuan hargakan, jika kalau ini yang tuan-tuan apprecieer,
maka penghargaan atau appresiasi tuan-tuan atas jerih-payah yang telah
saya persembahkan dengan ikhlas kepada perjoangan tanah air dan bangsa
itu, saya terima dengan rasa terharu dan rasa terima kasih. Tidak lain!
Sungguh tidak lain! Pancasila yang tuanku promotor sebutkan sebagai jasa
saya itu sebagai ciptaan saya itu, bukanlah jasa saya, oleh karena saya,
dalam hal Pancasila itu, sekedar menjadi “perumus” daripada
perasaan-perasaan yang telah lama terkandung bisu dalam kalbu rakyat
Indonesia, sekedar menjadi “pengutara” daripada keinginan-keinginan dan isi
jiwa bangsa Indonesia turun-temurun.
Ya, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, benar
Pancasila itu resmi menjadi dasarnya falsafah negara Republik Indonesia,
sebagai tercantum dalam mukadimah Undang-undang dasarnya, tetapi saya menanggap
Pancasila itu telah lama tergurat pada jiwa bangsa Indonesia. Saya menanggap
Pancasila itu corak karakternya bangsa Indoensia. Sebagaimana tiap-tiap
individu mempunyai watek sendiri dan pembawaan-pembawaan sendiri, maka
tiap-tiap bangsa pun mempunyai watek sendiri dan pembawaan-pembawaan sendiri.
Tiap-tiap bangsa mempunyai “themasentral” sendiri yang menentukan segala
sesuatu yang mengisi hidupnya, mempunyai “toon” sendiri yang menentukan segenap
lagu fikiranya dan segenap lagu tingkahnya, mempunyai kepribadian sendiri yang
memberi cap atau corak kepada segala angan-angannya dan segala
kelakuan-kelakuannya. Ada bangsa yang kepribadianya ialah haus kekuasaan dan
haus menguasai orang lain, yaitu bangsa yang kepribadiannya imperialistis; ada
bangsa yang toon lagunya ialah selalu toon kesenian, bangsa yang artistik.
Bangsa Indonesia ialah satu bangsa yang toon lagunya menurut pendapatku ialah
Pancasila. Tidakkah benar bangsa kita pada hakekatnya religieus? Tidakkah benar
bangsa kita pada hakekatnya berjiwa kebangsaan? Tidakkah benar bangsa kita
selalu halus budi pekertinya terhadap sesama manusia? Tidakkah benar kedaulatan
rakyat atau demokrasi bukan barang baru bagi kita? Tidakkah benar keadilan
sosial, didesa-desa orang sebutkan pemerintahnya ratu adil, dianggap oleh
bangsa kita sebagai puncaknya kebijaksanaan? Telaahlah siapa yang mau
mentelaah: bangsa Indonesia bertema sentral kepada tema yang lima itu, berwatek
watek yang lima itu, berkepribadian-kepribadian yang lima itu, berroman-muka
roman-muka yang lima itu! Maka saya bertanya adakah saya berjasa kalau saya melihat roman-muka ibuku sendiri, dan
lantas mengatakan bagaimana
roman-muka ibuku itu?
Tetapi, tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah, juga
disini saya hendak mengemukakan elemen perjoangan. Bangsa kita berkeperibadian
Pancasila tetapi itu belum berarti bahwa Pancasila telah menjelma wadag
disegala bagian-bagian dan sudut-sudut masyarakat kita, telah gematerialiseerd
disegala lapangan-lapangan hidup masyarakat kita! Ada orang yang berkata: Buat
apa Pancasila, sedangkan masih banyak kemiskinan dikalangan rakyat? Buat apa
Pancasila, sedangkan perikemanusiaan masih sering dilanggar orang? Hai,
tuan-tuan dan nyonya-nyonyalah, adakah Christendom yang bersalah kalau masih
banyak orang yang tidak christelyk; adakah islam yang bersalah kalau belum
semua ajaranya terselenggara? Adakah satu defect kepada Pancasila, kalau masih
ada orang-orang Indonesia yang tiada bertuhan, kalau masih ada perpecahan dan
provincialisme, kalau masih ada orang-orang yang kejam pada sesama manusia dan
nasional-chavinis, kalau masih belum berjalan sempurna kedaulatan rakyat, kalau
masih ada kemiskinan dan kemelaratan?
Tidak, salahnya ialah bahwa kita, juga dalam
hal Pancasila ini, melupakan elemen perjoangan. Juga dalam hal Pancasila ini
orang harus berfikir dalam istilah geest wil daad! Bangsa Indonesia harus
berjoang terus, berdialog dalam arti yang luas, berjoang terutama dalam arti
membangun, membangun materil dan membangun moril, agar supaya toon-hidupnya
yang bernama Pancasila itu benar-benar menjelma wadag diatas segala lapangan
hidunya. Sebab, sebagaimana tiap-tiap individu dilingkungi oleh keadaan-keadaan
yang mempengaruhi dan menentukan hidup jasmani individu itu, maka bangsa pun
dilingkungi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi dan menentukan hidupnya
bangsa itu. Perjoangan individu ialah perjoangan mempergunakan atau mengalahkan
keadaan agar supaya zijnnya (luar dalam) tumbuh dan berkembang, maka perjoangan
bangsa pun harus perjoangan mempergunakan atau mengalahkan keadaan agar supaya
zijnya (luar dalam) tumbuh dan berkembang. Ambillah saudara-saudara sebuah
benih sawo. Tanamlah benih sawo itu. Dimanapun ia ditanam, benih sawo akan
menjadi pohon sawo, tidak akan benih sawo itu menjadi pohon mangga.
Kepribadiannya tetap. Wataknya tetap. Toon hidupnya tetap. Tetapi ada perbedaan
besar, apakah sawo itu ditanam di tanah cengkar ataukah di tanah yang subur.
Ditanah cengkar ia menjadi pohon sawo yang kurus. Di tanah subur ia menjadi
pohon sawo yang subur. Keadaan sekali
lagi keadaan dan cara mempergunakan keadaan
atau menundukkan keadaan itu, membuat dia menjadilah pohon sawo yang
kurus-kering atau pohon sawo yang daunya rindang dan buahnya banyak. Bangsa
Indonesia pun harus berjoang, terus berjoang, terus berjoang oleh karena hidup
adalah berjoang, mempergunakan keadaan dan menundukkan keadaan, agar supaya
zijnya subur dan berkembang. Berjoang terus, agar supaya kepribadianya menjelma
wadag dimana-mana. Toon hidupnya gematerialiseerd disegala lapangan. Pancasila
menjadi kenyataan yang dapat diraba, menjadi tastbare werkelijkheid, diseluruh
masyarakat tanah air kita.
Berjoang, bekerja, berjoang buat tanah air dan
bangsa, geest wil daad buat tanah air dan bangsa, itulah tetap menjadi seruan
saya, dari zaman saya masih muda, sampa kezaman sekarang. Geest wil daad buat
tanah air dan bangsa itupun menjadi seruanku pada saat sekarang ini kepadamu,
hai mahasiswa- mahasiswa, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang sedang
meminum air pengetahuan dari sumbernya Alma mater Gajah Mada! Camkanlah inti
sari pidatoku sekarang ini, bahwa pengetahuan, bahwa ilmu, bahwa kennis, bahwa
wetenschap, bahwa terori adalah tiada guna, tiada wujud, doelloos, jika tidak
dipergunakan untuk mengabdi kepada prakteknya hidup. Buatlah ilmu berdwitunggal
dengan amal! Malahan angkatan derajat kemana siswaanmu itu kepada derajatnya
mahasiswa patriot, yang sekarang mencari ilmu, untuk kemudian beramal terus
menerus dihadirat wajah ibu pratiwi!
Tahukah mahasiswa apa sebab aku sekarang ini
bangga? Bukan terutama oleh karena diberi kehormatan doctor honoris causa.
Tetapi aku bangga karena alma matermulah yang memanggil aku, Alma matermu!
Universitet Gajah Mada yang dilahirkan diatas persadanya amal bagi ibu pratiwi,
dilahirkan dalam kancahnya perjoangan ibu pratiwi. Didalam kancahnya tempat
menggumpalnya kemauan-kemauan nasional menjadi amal-amal nasional, didalam
kancah tempat menggumpulnya nationalewil menjadi nationale daad, didalam kancah
tempat menggumpalnya oknum-oknum konstruktif daripada revolusi ktia yang
glorieus ini, didalam kancahnya perjoangan, pengorbanan, pengabdian, didalam
kancah yang demikian itulah Gajah Madamu ini dilahirkan, didalam kancah yang
demikian itulah Gajah Madamu ini menjelma dan bertumbuh, dan aku sungguh
terharu bahwa Universitet yang demikian itulah yang menyatakan apresiasinya atas
sumbanganku kepada ibu pratiwi. Dan engkau, engkau adalah mahasiswa- mahasiswa
pada Universitet Putera amal dan putera perjoangan itu, engkau adalah
asuhan-asuhannya, engkau adalah laksana anak-anak rajawali,
adelaarsjong-adelaarsjong, maka tetap setialah kepada jiwa dan cita-cita
indukmu itu, sekarang dan kelak, jikalau engkau telah meninggalkan
ruangan-ruangan kuliahnya dan telah masuk kedalam prakteknya masyarakat dan
prakteknya hidup. Hidupkanlah terus garis pahlawan geest wil daad, hidupkanlah
terus garis pejoang geest wil daad! Gajah Mada adalah mata airmu, Gajah Mada
adalah sumber airmu, tinggalkanlah kelak Gajah mada ini bukan untuk mati
tergenang dalam rawanya ketiadaamalan atau rawanya kemuktian diri-sendiri,
tetapi mengalirlah kelaut, tujulah kelaut, capailah laut, Lautnya pengabdian
kepada negara dan tanah air, yang berirama, bergelombang, bergelora!
Ambillah, hai mahasiswa- mahasiswa Gajah Mada,
ucapan seorang revolusioner Perancis menjadi semboyan hidupmu di masa depan:
“Door de ze op te zoeken, blijft de rivier
trouw aan haar bron”
“Dengan menuju kelaut, maka sungai setia
kepada sumbernya
Sekianlah!
Merdeka!
Sekali lagi hidupkan terus garis geest
wil-daad!